Monday, October 29, 2012

Manfaat Menyaring Udara dengan Masker Muka Penutup Mulut dan Hidung


SURVEI Bank dunia tahun 2004 menunjukkan kadar partikel debu dalam udara Jakarta 104 mikrogram per meter kubik. Dengan kadar sebesar itu, Jakarta menduduki peringkat kesembilan dari 111 kota di seluruh dunia dengan  kadar debu terbanyak.

Tidak hanya itu, Jakarta juga tercatat sebagai kota dengan tingkat polusi terparah ketiga di dunia setelah Bangkok dan Meksiko.

Tingginya tingkat polusi udara diketahui membuat orang lebih rentan terkena penyakit infeksi saluran napas akut (ISPA). Terlebih pada orang-orang yang daya tahan tubuhnya menurun karena pola makan yang tidak baik dan lingkungan yang kotor, juga karena faktor stres akibat tekanan pekerjaan. 

Dalam kondisi demikian, sejatinya ada solusi mudah dan murah yang bisa mengurangi kerentanan terhadap ISPA itu. Yakni, memakai masker muka penutup mulut dan hidung.

Meski terkesan sepele, manfaat masker muka sesungguhnya signifikan. Sebuah penelitian yang termuat dalam British Medical Journal pada 2009 menyebutkan, enam orang menggunakan masker muka dapat mencegah satu kejadian ISPA. 

Menurut dokter spesialis paru RS Persahabatan Jakarta Agus Dwi Susanto, memakai masker muka memang salah satu langkah mencegah ISPA. Dengan memakai masker muka, partikel-partikel debu dan polutan lain dalam udara bisa tersaring.

"Semakin kecil ukuran pori-pori masker muka, semakin baik kemampuannya dalam menyaring polutan," jelas Agus. 

Ia mencontohkan jenis-jenis masker muka seperti N95, N99, dan N100 yang bisa menyaring polutan udara hingga ukuran 0,3 mikron. Namun demikian, masker muka sekali pakai yang kerap dipakai masyarakat, yaitu jenis surgical mask (masker tipis bertali) banyak bermanfaat terutama untuk menyaring partikel polutan yang berukuran besar serta mencegah penularan penyakit ISPA.

"Penularan penyakit ISPA seperti flu dan batuk dapat terjadi melalui percikan ludah penderita saat berbicara, batuk, maupun bersin. Kalau penderita memakai masker muka, percikan ludah itu bisa tertahan di masker muka dan tidak menyebar menulari orang lain," jelas Agus.

Sayangnya, menggunakan masker muka saat flu dan batuk belum menjadi kebiasaan masyarakat. Alasan risih, pengap, dan tidak nyaman membuat sebagian masyarakat enggan memakai masker muka. Tidak mengherankan jika saat ini, berdasar data Riset Kesehatan Dasar 2010, ISPA masuk daftar 10 penyakit yang paling banyak terjadi di masyarakat.

"Semoga makin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya memakai masker muka. Terutama bagi mereka yang sedang sakit, sering kontak dengan orang yang sakit batuk, sedang berada di daerah keramaian atau di daerah yang terkena wabah," ujar dokter Dandan Marhadani, di Jakarta beberapa waktu lalu. (*/H-3)   

Saturday, May 21, 2011

PENUTUP MULUT

Kadang kita tertawa geli melihat orang-orang yang sedang berjalan memakai masker muka atau penutup mulut, agar terhindar dari debu atau asap. Terutama saat wabah flu burung menyeruak. Di mana-mana, terlihat orang berlalu lalang menggunakan masker muka atau penutup mulut. Memang benar, masker muka atau penutup mulut bisa membantu mencegah, tetapi yang terpenting jagalah kesehatan, dengan makan atau minum yang seimbang, istirahat yang cukup dan berolahraga secara teratur.

Tuesday, July 28, 2009

MASKER DEBU

Masker muka kadang dinamakan masker debu. Memang benar, masker muka alias masker debu, fungsinya adalah untuk melindungi hidung dan mulut dari lingkungan polutif debu. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang yang bekerja di tempat yang berdebu tanpa masker debu, cepat atau lambat akan mengalami gangguan pernapasan. Dan terakhirnya, berujung terhadap kesehatan yang bersangkutan. Cegahlah dengan selalu memakai masker debu, yang harganya cuma seribu rupiah per unitnya. Semoga Anda selalu dalam keadaan sehat. Amin !!!